Rabu, 20 Oktober 2010

Usaha Sawit Besar Tak Perlu Pinjaman Bank Dunia


[Image]
Usaha Sawit Besar Tak Perlu Pinjaman Bank Dunia Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar mengatakan industri minyak sawit besar Indonesia sudah tidak lagi membutuhkan pinjaman dari “International Finance Corporation” (IFC) Bank Dunia.
“Kita berterima kasih sebelumnya Bank Dunia banyak membantu, tapi untuk sekarang IFC Bank Dunia sudah tidak perlu lagi memberikan pinjaman bagi usaha sawit besar karena mereka sudah bisa mencari sumber alternatif pembiayaan sendiri,” katanya saat memberikan keterangan pers di kantor Kementerian Perdagangan Jakarta, Kamis.
Sebelumnya, kata Mahendra, Bank Dunia memutuskan menghentikan kredit untuk sektor sawit karena tekanan berbagai pihak terkait dengan isu kelestarian lingkungan, kemudian mengembangkan kerangka kerja produksi yang berkelanjutan.
Indonesia, kata Mahendra, berharap kerangka itu meliputi pilar lingkungan, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan rakyat.
Namun, kata dia, jika masih mau membantu Bank Dunia bisa menyalurkan bantuannya untuk mendukung program peningkatan kesejahteraan petani sawit kecil.
“Dan, dalam hal ini yang lebih penting bantuan `off farm` karena pemerintah sudah menyediakan kredit untuk kegiatan `on farm`,” katanya.
Lebih lanjut dia menjelaskan saat ini industri minyak sawit nasional sudah jauh lebih bagus dibandingkan dengan kondisi pada 30 tahun lalu.
“Wajahnya sudah berbeda. Dulu masih kecil, sekarang sudah besar, sudah bisa mencari sumber pembiayaan sendiri. Tidak lagi tergantung pada IFC Bank Dunia,” katanya.
Indonesia, kata dia, kini sudah menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia yang mampu menghasilkan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) per tahun.
Ia mengatakan saat ini pemerintah sedang mengembangkan industri hilir pemanfaatan minyak sawit mentah untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan dengan meningkatkan nilai tambah komoditas.
Pemerintah, kata dia, juga mendorong dan memfasilitasi perusahaan perkebunan sawit mendapatkan sertifikat penyelenggaraan produksi minyak sawit berkelanjutan.
Pada tahun 2011, pemerintah juga berencana menerapkan aturan mengenai standar penyelenggaraan produksi minyak sawit berkelanjutan (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO).
“Kami juga menyambut baik komitmen perusahaan sawit besar, seperti Smart dan Golden Agri, menjalankan praktik produksi sawit berkelanjutan pada tahun 2015. Itu langkah yang harus diikuti semua perusahaan sawit,” katanya.
Sebelumnya, IFC Bank Dunia menghentikan sementara investasi pada minyak sawit.
Menurut Mahendra, Bank Dunia memutuskan menghentikan kredit untuk sektor sawit karena tekanan berbagai pihak terkait dengan isu kelestarian lingkungan.
“International Finance Corporation” Bank Dunia, kata dia, kemudian mengembangkan kerangka kerja produksi sawit yang berkesinambungan.
Indonesia, kata Mahendra, berharap kerangka itu meliputi pilar lingkungan, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan rakyat.
sumber: http://batamku.info/usaha-sawit-besar-tak-perlu-pinjaman-bank-dunia

0 komentar:

Posting Komentar