BOGOR - Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, sudah sepantasnya mengembangkan industri hilir kelapa sawit (IHKS) yang menghasilkan beragam produk unggulan dunia. Namun, agar IHKS dapat mengadopsi teknologi secara cepat, diperlukan kolaborasi riset antara perguruan tinggi, lembaga litbang dan dunia industri.
Demikian pemaparan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Erliza Hambali, dalam orasi ilmiah Peran Teknologi Proses Agroindustri dalam Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit di Gedung Andi Hakim Nasoetion IPB, pertengahan September lalu.
Erliza mengungkapkan, IHKS memegang peranan penting dalam perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia kebutuhan pokok masyarakat dan bahan baku industri, penghasil devisa, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan ketahanan pangan dan energi nasional.
Saat ini Indonesia hanya mengolah 55% minyak sawit produksi nasional, sementara sisanya diekspor mentah. Padahal, produk derivatif kelapa sawit punya nilai tambah tinggi untuk meningkatkan perolehan devisa dan kesejahteraan masyarakat. Maka, dibutuhkan strategi untuk mengembangkan industri hilir, selain sinergisitas dan dukungan pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat.
Daya saing IHKS nasional mutlak dilakukan, karena masih lemahnya daya saing Indonesia, rendahnya jumlah anggaran dan belanja litbang nasional, serta masih kurangnya publikasi ilmiah dan paten hasil peneliti.
sumber: http://infosawit.com/index.php?option=com_content&view=article&id=154:perlu-kolaborasi-kembangkan-ihks-&catid=66:berita-lintas
Demikian pemaparan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Erliza Hambali, dalam orasi ilmiah Peran Teknologi Proses Agroindustri dalam Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit di Gedung Andi Hakim Nasoetion IPB, pertengahan September lalu.
Erliza mengungkapkan, IHKS memegang peranan penting dalam perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia kebutuhan pokok masyarakat dan bahan baku industri, penghasil devisa, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan ketahanan pangan dan energi nasional.
Saat ini Indonesia hanya mengolah 55% minyak sawit produksi nasional, sementara sisanya diekspor mentah. Padahal, produk derivatif kelapa sawit punya nilai tambah tinggi untuk meningkatkan perolehan devisa dan kesejahteraan masyarakat. Maka, dibutuhkan strategi untuk mengembangkan industri hilir, selain sinergisitas dan dukungan pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat.
Daya saing IHKS nasional mutlak dilakukan, karena masih lemahnya daya saing Indonesia, rendahnya jumlah anggaran dan belanja litbang nasional, serta masih kurangnya publikasi ilmiah dan paten hasil peneliti.
sumber: http://infosawit.com/index.php?option=com_content&view=article&id=154:perlu-kolaborasi-kembangkan-ihks-&catid=66:berita-lintas

0 komentar:
Posting Komentar