Indonesia Undang Investor Sawit China
[Image]
Indonesia Undang Investor Sawit China Jakarta (ANTARA) – Indonesia mengundang investor perkebunan kelapa Sawit dari China untuk menanamkan modalnya dan sekaligus siap memasok sebagian besar kebutuhan minyak kelapa sawit negara “Tirai Bambu” itu yang diprediksi akan mencapai tujuh juta ton mulai tahun depan.
“Pertumbuhan kebutuhan pasokan minyak sawit China tetap tinggi, saya yakin pada tahun depan kebutuhannya akan mencapai 7 juta ton. Sinar Mas akan meraih 50 persen pasar minyak sawit di negara ini,” kata Chairman Sinar Mas, Franky Wijaya, usai diskusi Bisnis Forum Indonesia-China, di Shanghai, Jumat.
Keyakinan Sinar Mas itu bertumpu dari pertumbuhan ekonomi negeri tirai bambu itu yang mencapai 19 persen per tahun, katanya dalam siaran pers yang diterima di Jakarta.
“Saat ini saja kebutuhan minyak sawit China telah mencapai 6 juta ton lebih per tahun, 2,8 juta ton dipasok Indonesia untuk dikonsumsi penduduk yang mencapai 3 miliar orang.”
Dia mengatakan pihaknya mampu memenuhi pasokan minyak sawit ke negara tersebut. Apalagi, pemerintah Indonesia telah mencanangkan akan meningkatkan produksi minyak sawit hingga mencapai 40 juta ton pada 2020.
“Lahannya masih luas dan kita siap menaikkan tingkat produksi minyak kelapa sawit,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Franky mengakui adanya kritik tajam yang dilontarkan kalangan LSM yang menuding perusahaan yang dikelolanya merusak lingkungan. Namun dia menolak semua tuduhan selama ini dilancarkan kalangan LSM.
“Dari seluruh areal konsesi yang dikelola Sinar Mas, hanya 1,8 persen yang kurang memenuhi standar lingkungan. Tapi, semuanya sekarang telah dikoreksi dan diperbaiki,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta, mengundang investor China untuk datang menanamkan investasinya di Indonesia. Namun demikian, katanya, perusahaan yang menanamkan investasinya di Indonesia harus mematuhi Peraturan Pemerintah No.32/2009 yang mengharuskan pengusaha tidak merusak lingkungan dalam menjalankan usahanya.
Menteri Lingkungan Hidup juga mengkampanyekan pengembangan dunia usaha yang mengacu pada “green building” sebagai persyaratan yang ditetapkan untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Pada prinispnya, pemerintah tidak langsung menerapkan sanksi, melainkan melakukan pembinaan agar memenuhi syarat yang ditetapkan agar dunia usaha tetap mendukung pembangunan yang bernuansa hijau tersebut.”
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian, Bayu Khrisnamurti, mengatakan dunia usaha menghadapi tantangan besar menghadap perubahan iklim yang melanda dunia. Dalam tiga atau empat bulan terakhir, perubahan iklim telah melanda sejumlah negara, termasuk, Rusia, Eropa, dan Kanada.
Dikatakannya, permasalahan perubahan iklim bukan lagi hanya mencairnya es di Kutub Utara, melainkan telah berkembang kepada persoalan ketersediaan pangan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dunia, yakni berkurangnya produksi 40 persen produksi pangan di Pakistan dan berkembangnya perubahan cuaca yang ekstrim di sejumlah negara.
Namun demikian, Indonesia dan China sebagai dua negara dengan penduduk terbesar di dunia juga memandang pemenuhan kebutuhan akan minyak makan berupa minyak goreng sebagai kebutuhan yang prioritas, sehingga harus dijaga kualitas produksi terbaiknya, terutama minyak goring yang mengandung Vitamin A sangat penting, guna pertumbuhan anak menjelang dewasa.
Ke depan, pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan produktifitas minyak sawit menjadi sembilan kali lipat lebih baik dibandingkan produksi kedelai dan tujuh kali lipat lebih baik dibandingkan tanaman bunga matahari.
“Artinya, minyak sawit itu hanya membutuhkan lahan yang lebih kecil jika dibandingkan tanaman lain,” katanya.
Di samping itu, katanya, selama 20 tahun hingga 25 tahun, pengusaha perkebunan kelapa sawit tidak perlu menebang atau mengganti tanaman setiap kali melakukan panen.
“Ada istilah teknis `carbon foot print` sawit 40 persen lebih rendah dibanding minyak nabati lain,” katanya.
Dengan demikian, perkebunan kelapa sawit di Indonesia memiliki keunggulan dengan tingkat produksi 20 juta ton minyak sawit per tahun untuk tanaman seluas 7,5 juta hektare (ha) dengan 2 juta ha masih berupa tanaman muda dan masih tercatat 1 juta ha hingga 1,2 juta ha lahan yang “clear and clean” belum ditanami.
“Jadi tidak mustahil jika pemerintah Indonesia memprediksi mampu memproduksi minyak sawit hingga mencapai 40 juta ton, tanpa memperluas lahan perkebunannya.”
Pertumbuhan perkebunan kelapa sawit yang ditanami masyarakat, ungkap Bayu, sangat menggembirakan karena hampir 42 persen perkebunan kelapa sawit dikelola petani kecil, sisanya dikelola swasta dan pemerintah melalui badan usaha milik negara (BUMN).
sumber: http://batamku.info/indonesia-undang-investor-sawit-china

0 komentar:
Posting Komentar